Seperti biasa, pagi-pagi sebelum ke sekolah, Kasif duduk di meja
untuk sarapan. Ketika ibunya membuat teh, mata Kasif terpaku pada gambar seekor
beruang di stoples madu. Ibunya sedang sibuk, saat beruang di gambar itu
mengedipkan mata pada Kasif, dan berbicara padanya.
“Salam,
Kasif! Menurutku kamu pasti menyukai madu seperti kami, para beruang …”
“Ya,” Kasif setuju. “Ibuku tak pernah melupakan madu setiap sarapan.
Tetapi madu-madu kami berasal dari stoples-stoples pasar swalayan. Dari mana
madumu kautemukan?”
Beruang mengerutkan hidungnya sebelum menjawab. “Tuhan kami, Yang
memenuhi kebutuhan-kebutuhan semua makhluk hidup dengan kemungkinan cara
terbaik, memberi kami, para beruang, hidung-hidung panjang yang sangat peka
untuk membaui. Berkat hidung ini kami dapat menemukan makanan dengan mudah.”
Kasif, yang
pernah disengat olehl seekor lebah, kebingungan. “Ketika kamu menemukan sarang
lebah dengan madu di dalamnya, bagaimana kamu mengeluarkan madu itu?” Ia
berpikir.
Kali ini beruang tersebut menyodorkan cakarnya pada Kasif, agar anak
itu bisa melihatnya. “Ketika kami temukan sarang lebah, kami ketuk-ketuk sarang
itu keras-keras dengan cakar untuk menyingkirkan semua lebah di dalamnya. Lalu,
kami menikmati santapan madu di dalamnya. Namun, apapun yang kamu lakukan,
jangan coba-coba melakukan hal yang sama. Nanti, lebah bisa menyengatmu di
mana-mana, dan membuatmu sangat-sangat sakit. Syukur kepada Allah, kami, para
beruang, dilindungi dari sengatan-sengatan lebah berkat bulu tebal kami.”
Kasif
berjanji tidak akan meniru perbuatan sang beruang. “Ada hal lain yang
kupikirkan. Tidakkah kalian, beruang, merasa lapar sepanjang tidur musim
dinginmu?” tanyanya.
Beruang
itu menganggukkan kepalanya yang berbulu tebal. “Sebelum tidur sepanjang musim
dingin, kami makan banyak sekali. Untuk membuat lapisan lemak di bawah kulit
kami, kami makan banyak biji-biji pohon beech dan kastanye. Dengan begitu, kami
bisa menyimpan lemak di dalam tubuh. Namun berat badan kami hilang ketika tiba
saatnya keluar dari sarang di musim semi. Kendati demikian, kami bisa bertahan
walaupun kehilangan sebagian besar bobot tubuh. Tentu saja, kami tidak
memikirkan sendiri masalah penyimpanan lemak di tubuh kami, sebelum memulai
tidur musim dingin yang panjang. Kebiasaan makan banyak-banyak sebelum tidur
panjang ini diilhamkan pada kami oleh Allah Yang Mahakuasa.”
“Bisa kulihat sekarang,” kata Kasif, “bahwa setiap makhluk hidup di
muka bumi adalah bukti tertinggi dari penciptaan Allah. Terimakasih karena sudah
mengingatkan hal itu padaku, temanku …” Beruang itu mengangguk setuju.
Kasif
lalu dikejutkan oleh suara Ibu yang memberitahunya bahwa sarapan telah siap.
Sambil menikmati madunya, Kasif memikirkan beruang itu dan berterimakasih pada
Allah, yang Maha Mengasihi, Yang telah menciptakan beruang begitu sempurna.
Tujuh langit, bumi dan siapapun yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak satupun melainkan yang bertasbih dengan memujinya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya, Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun (Surat Al Israa’: 44).

